Ir. Muhammad Ade Irfan, MBA., IPM. [1]

Penulis adalah Researcher dan Pegiat Project Management

OPINI PROJECT MANAGEMENT – REVIEW TARGET LIFTING MINYAK MENGIKUTI KONDISI HARGA MINYAK DUNIA.

SKK MIGAS beberapa hari yang lalu telah merilis tingkat pencapaian atau target lifting minyak di beberapa KKKS. Secara umum target lifting lebih rendah dibanding dengan tahun 2015, namun ada juga KKKS yang telah menancapkan target lebih tinggi dibanding 2015. Hal ini dikarenakan beberapa proyek infrastruktur pendukung lifting minyak tersebut telah selesai, dan mulai untuk dilakukan eksplorasi serta produksi tahun ini, dan tahun 2017 bisa tercapai[2].

GRAFIK TARGET LIFTING MINYAK KKKS INDONESIA

(BAREL MINYAK PER HARI)

Melihat grafik diatas terlihat banyak K3S mengalami penurunan dalam lifting minyak (produksi siap jual). Chevron Pacific mengalami penurunan 11.5% untuk target lifting harian, Total E&P Indonesie juga mengalami penurunan sebesar 11.2%, ConocoPhillips mengalami penurunan sebasar 17.1%, ditambah dengan Petrochina Jabung sebesar 16.6%. Total angka penurunan adalah 67.500 barel minyak per hari. Namun berita yang cukup menggembirakan ditengah penurunan target lifting adalah beberapa KKKS masih tetap menunjukkan kinerja kenaikan dibuktikan Mobil Cepu Ltd. mengalami kenaikan 61.7%, ditambah dengan PC Ketapang II Ltd. yang akan menambah produksi siap jual menjadi 19.100 BOPD (Barel Oil PerDay). Sehingga penurunan 67.500 BOPD tersebut dapat ditutupi oleh KKKS yang lain yaitu Mobil Cepu Ltd. dan PC Ketapang II Ltd. sebesar 72.300 BOPD.

Beberapa penyebab penurunan target lifting dari KKKS diantaranya adalah harga minyak dunia yang kurang menarik untuk dilakukan eksplorasi dan produksi, ini disebabkan karena margin antara biaya konstruksi dengan harga jual cukup mepet. Economic scale untuk KKKS bisa bernafas adalah dikisaran USD 60,-/Barrel, sementara sekarang masih dikisaran USD 40,-/Barrel.

Project infrastruktur pendukung target lifting minyak cukup banyak, sejak dari Conceptual – Engineering – Estimation – Execution – Construction – Commissioning – Delivery – Production – Sales, mulai dari Hulu – Hilir, dengan harga USD 40,-/barrel akan sangat susah untuk bisa menjalankan proses produksi dari hulu sampai ke hilir, dari exploration sampai sales. Masing – masing tahapan mempunyai overhead sendiri – sendiri, overhead tersebut dapat berupa project management, fasilitas, pajak – pajak, dan cost of money. Overhead tersebut menjadi besar jika saat exploration di suatu areal mengalami banyak obstacle, diantaranya perijinan, remote area, daerah kritis, atau keterlibatan pemerintah daerah setempat. Kesulitan dalam perijinan membuat biaya tunggu membengkak, dikarenakan perijinan harus melewati banyak meja. Remote area menjadi obstacle yang signifikan saat daerah tersebut sangat susah dijangkau dan dilewati kendaraan atau kesulitan berkomunikasi, hal ini akan memberikan additional pricing. Yang tidak kalah penting adalah keramahan dan keterlibatan pemerintah daerah menjadi kunci penting dalam memberikan kenyamanan bagi KKKS untuk melakukan eksplorasi dan produksi, sudah menjadi rahasia umum bahwa di beberapa daerah tertentu sangat sulit untuk dijangkau, bukan karena transportasi dan mobilisasi resources, namun karena pemerintah daerah tersebut mempunyai privilege tertentu. Seyogyanya masalah seperti ini dilakukan mitigasi dan kemudian dicarikan solusi yang efektif, dan pemerintah pusat juga bisa turun tangan untuk membantu KKKS yang telah ditunjuk melakukan eksplorasi dan produksi. Remote area adalah penentu production chain di project eksekusi, karena remote area memberi jalan kemudahan personel, peralatan, survey, dan investigasi di area project tertentu. Perbandingannya adalah Mobil Cepu Ltd. di Cepu dan Total E&P Indonesie di Papua Bird, dimana Cepu terletak di Jawa Tengah, sementara Papua Bird di Papua. Sebenarnya ini merupakan tantangan tersendiri namun menjadi obstacle signifikan saat tantangan tersebut berubah dan dibandingkan dengan nilai keekonomian. Nilai keekonomian ini sangat berhubungan dengan ketertarikan untuk investasi bagi KKKS di Indonesia, sebab disini investor akan melakukan costing dan estimating berbagai macam rasio keuangan. Metode parametric dan deterministic adalah satu rangkaian bagi KKKS untuk melakukan costing nilai keekonomian.

Itulah sebabnya beberapa KKKS menurunkan target lifting di tahun 2017, untuk menunggu kondisi kesetimbangan yaitu di level USD 60,-/barrel atau melakukan penghematan eksplorasi dan produksi dengan salahsatunya adalah penurunan nilai overhead sehingga tidak menjadi sunk cost yang dikemudian hari justru menjadi nilai pertimbangan bagi investor.


[1] Engineering Consultant oil and gas, mining, power plant

[2] SKK Migas, 22 September 2015

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi smadajo92.com