Ir. Muhammad Ade Irfan, MBA., IPM. [1]

Penulis adalah Researcher dan Pegiat Project Management

OPINI PROJECT MANAGEMENT – IDENTIFIKASI MASALAH DAN SOLUSI STRATEGI PROJECT MANAGEMENT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PAPUA BARAT – PAPUA

Presiden Ir. H. Joko Widodo saat melakukan lawatan ke daerah Papua dan Paupa Barat telah menancapkan ide penting untuk pembangunan infrastruktur memadai[2], sebagai pengalihan peningkatan kesejahteraan di dareah tersebut dari strategi militer menjadi pendekatan yang humanis. Pendekatan militer telah membuat traumatis warga di daerah Papua dan Papua Barat, sehingga mereka terpinggirkan dari kesejahteraan dan terpasung hak mereka untuk mengembangkan pendidikan, perekonomian, dan hajat hidup mereka.

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

Peningkatan kesejahteraan dimulai dengan ketersediaan infrastrukstur – infrastruktur memadai di daerah – daerah tersebut. Kesejahteraan akan bisa dicapai apabila terdapat pergerakan perekonomian, yaitu ketersediaan pasar, jalan, jembatan, pelabuhan – pelabuhan, telekomunikasi, dan tempat – tempat lain yang berhubungan dengan pergerakan perekonomian. Kesejahteraan tidak akan bisa mengalir apabila perekonomian di daerah tersebut berhenti dan infrastruktur tidak memadai. Hal tersebut tidak hanya berlaku di Papua atau Papua Barat, namun juga berlaku di daerah – daerah lain. Infrastruktur bisa terwujudkan dengan pembangunan, dan pembangunan akan bisa terwujud apabila dibarengi dengan dibukanya proyek – proyek di daerah tersebut. Maka proyek konstruksi mengambil peranan penting untuk bisa mewujudkan kesejahteraan.

Pembangunan infrastruktur tanpa konstruksi dan ketersediaan resources untuk mensukseskan pembangunan infrastruktur tidak akan berarti apa-apa, hanya sekedar wacana. Resources yang dimaksud adalah : sumberdaya manusia, sumberdaya alam, alat berat pendukung konstruksi, teknologi, dan ketersediaan finance yang memadai. Apabila sumberdaya manusia tidak tersedia di daerah tersebut, maka dapat diganti dengan mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah, ini sebenarnya cukup beresiko terjadinya konflik sosial, salah satu alternative solusi adalah dengan mengikutsertakan warga lokal daerah tersebut sebagai tenaga kerja proyek konstruksi. Sumberdaya alam atau biasa disebut dengan quarry merupakan sumberdaya alam utama untuk proyek – proyek konstruksi, contoh sumberdaya alam adalah batu pecah, pasir, steel structure, tanah urug, atau kayu – kayu pendukung konstruksi. Sumberdaya alam ini jika tidak tersedia dapat didatangkan dari luar daerah, namun sebaiknya sumberdaya alam ini bisa dipenuhi dari areal atau lokasi daerah terdekat proyek – proyek konstruksi. Alat berat untuk membantu kelancaran proyek konstruksi merupakan alat utama dalam menyelesaikan dan menjawab proses – proses konstruksi, alat berat ini tentu tidak semua tersedia di satu lokasi, namun bisa terpencar di beberapa lokasi atau daerah, malah bisa jadi di luar Papua atau Papua Barat. Indikatif terhadap kebutuhan alat – alat berat untuk konstruksi dilakukan sejak awal dari sejak mob – demob dalam scheduling proyek konstruksi.

Sekilas melihat diatas ternyata pencanangan pembangunan infrastruktur di Papua dan Papua Barat, bukan hanya sekedar wacana yang mudah untuk direalisasikan, namun juga perlu dukungan banyak pihak untuk merealisasikannya. Realisasi pembangunan infrastrukstur adalah dengan proyek – proyek konstruksi yang melibatkan banyak pihak.

PERMASALAHAN KONSTRUKSI

Permasalahan konstruksi yang signifikan adalah proyek dapat berjalan dengan tepat waktu, kesesuaian mutu, optimasi biaya, dan ketersediaan sumberdaya. Hal ini dapat dilihat pada scheme of project managing dalam PMBOK, selain risk yang tentunya musti didefinisikan lebih lanjut, agar potensi loss serta ketidakpatuhan terhadap mutu konstruksi bisa dihindari.

Gambar 1 : Identification Cycle of Project Management[3]

Pendefinisian terhadap ruang lingkup pekerjaan sangat penting, apalagi di daerah remote area. Hal ini untuk memberikan optimasi bagi kontraktor serta memudahkan untuk Client melakukan progress control, apalagi kantor kontraktor dengan kantor Client berjauhan. Bisa saja terjadi pembangunan di daerah Papua dan Paua Barat, dimana kantor Client terletak di ibukota provinsi, sementara kantor kontraktor berjarak 500 km-an atau sangat berjauhan. Pendefinisian dengan jelas untuk scope of work serta interface dalam pembangunan kontruksi memberikan kemudahan kontraktor memenuhi jadwal dan ketersediaan sumber daya.

Mutu di pekerjaan konstruksi mempunyai pengaruh signifikan dalam lifetime dan pemenuhan terhadap peraturan atau kesesuaian dengan spesifikasi pihak Client. Kecenderungan mutu untuk pembangunan di remote area sangat kurang pengawasannya, walhasil ketercapaian dan kesesuaian dengan spesifikasi awal konstruksi sering diabaikan. Ini tidak hanya berimbas pada maintenance dan operability setelah masa konstruksi, namun juga menjadikan catatan penting bagi pemerintah daerah. Bisa saja yang terjadi spesifikasi dalam lifetime mencantumkan 25 tahun, namun baru beberapa tahun dibawah 10 tahun, kondisi infrastruktur sudah tidak memadai lagi, walhasil inilah yang menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah.

Penjadwalan dalam project management mempunyai pengaruh pada ketercapaian milestone dan progress pekerjaan. Jadwal yang masuk akal disertai dengan logika analis merupakan langkah awal dalam proses project management. Di remote area, penjadwalan harus berhati – hati disebabkan bukan karena masa konstruksi, namun lebih dari itu yaitu stepping penyediaan resources, alat – alat berat, dan dukungan perijinan menjadi critical path di pekerjaan – pekerjaan remote area.

Pemerintah pusat melalui kunjungan Presiden RI telah membuat anggaran sebesar Rp 6 Trilliun untuk proyek – proyek di Papua dan Papua Barat, yg terdiri dari : pembangunan jalan sepanjang 4000 km, penyediaan air bersih, pembangunan jembatan, irigasi, sanitasi, perumahan, dan pelabuhan[4]. Dana tersebut seharusnya juga termasuk budget untuk logistic atau forwarding material – material yang tidak terdapat di Papua atau Papua Barat. Kecenderungan beberapa proyek – proyek dengan status remote area sering terkendala oleh jalur logistic sehingga forwarder mengalami kesulitan untuk bisa menembus area proyek, dan pada gilirannya harus mengeluarkan additional cost khusus untuk logistic.

Di beberapa daerah ternyata mempunyai sumberdaya alam yang tidak mendukung proses – proses dalam konstruksi, misalnya pasir untuk konstruksi berbeda dengan pasir yang ada di pantai, batu pecah untuk konstruksi mempunyai perbedaan dengan batu – batu yang terdapat di daerah tersebut, terutama sekali tenaga – tenaga ahli di daerah tersebut yang ternyata tidak mendukung ketercepatan proses pembangunan konstruksi. Pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia merupakan tugas di semua lini departemen dan semua pihak, namun berbicara konstruksi atau project management maka sudah bukan lagi bicara level strata pendidikan, namun sudah bicara availability, profesionalitas, kompetensi, dan readiness, karena project selalu berhubungan dengan schedule dan milestone. Di beberapa daerah diakui atau tidak, ada kesenjangan cukup krusial untuk pengelolaan sumberdaya manusia, maka tidak semua daerah mempunyai tenaga – tenaga ahli di konstruksi.

Setiap pekerjaan tentu mempunyai risk, sehingga risk perlu untuk di-manage sedemikian rupa sehingga tidak membuat project menjadi delay dan losses. Singkat kata bahwa “risk akan selalu muncul dan tersedia jika tidak ada resources yang bisa meng-handle-nya”[5]. Risk akan tetap menjadi high jika tidak ada resource yang mumpuni untuk bisa menurunkan ke level low. Project di daerah remote area mempunyai kecenderungan untuk risk management menjadi high, dibanding di daerah lain yang bisa menjadi low risk.

STRATEGI SOLUTIF KONSTRUKSI REMOTE AREA

Strategic Project Management di daerah remote area seperti di Papua dan Papua Barat, harus dilakukan secara komprehensif, solutif, serta kreatif, karena banyak hal harus diperhitungkan, maka fungsi engineering, cost, method of work, estimation, dan schedule mempunyai sisi penting untuk bisa menjawab tantangan tersebut.

Pendefinisian scope of work yang dapat dilakukan untuk memberi concern bagi kontraktor menjalankan proyek mereka. ISBL (Inside Battery Limit) dan OSBL (Outside Battery Limit) dalam bentuk drawing dan deskripsi proyek akan memberikan guidance bagi kontraktor menyelesaikan kewajibannya. Pendefinisian scope of work akan memberikan kemudahan dalam pembentukan Work Breakdown Structure (WBS) yang mana ini akan memberikan gambaran menyeluruh untuk scheduling dan Estimation. Dan pada gilirannya akan memberikan kontraktor kemudahan completion pekerjaan.

Delivering mutu merupakan guarantee dalam penyelesaian pekerjaan, sebagai kontraktor maka mutu adalah top performance yang harus dijaga. Mutu dapat diambil dari WBS dengan definisi dan structural yang terdefinisi dengan baik. Mutu diterjemahkan dalam inspeksi dan test untuk memberikan reliability, availability, dan operability. Susunan ITP (Inspection Test Plan) menggambarkan rekomendasi mutu akan dihasilkan oleh pekerjaan, sehingga proyek remote area bisa berjalan dengan mutu sama dengan mutu di proyek – proyek yang dikerjakan di area lain.

Penjadwalan untuk proyek di remote area berbeda dengan proyek di area terdekat dengan quarry, proyek remote area mempunyai weighing besar di logistic – forwarder. Tentu saja ini harus bisa mengakomodir idle time antara lokasi quarry – port – material on site. Idle time tersebut bisa saja menimbulkan critical path, namun dengan method of work yang tepat akan bisa memberikan solusi network plan antara satu WBS dengan WBS yang lain, dengan begitu critical path tersebut bisa diselesaikan.

Pembiayaan merupakan nilai utama dalam menjalankan proyek eksekusi, skema pembiayaan yang meringankan kontraktor akan sangat dinikmati oleh kontraktor. Oleh karena itu skema pembiayaan harus berpihak kepada kontraktor dengan jangka waktu milestone tidak berjauhan dan tidak terlampu kecil. Pemberian down payment sebesar 10% akan meringankan kontraktor untuk memulai pekerjaan. Skema pembiayaan per milestone yang dihitung dari weighing sesuai progress akan memberikan keringanan untuk kontraktor, jauh berbeda apabila skema pembiayaan menggunakan progress payment atau monthly progress payment merupakan skema yang sedang trend saat ini dan sangat membantu kontraktor untuk penyelesaian project.

Resources merupakan material utama untuk proyek konstruksi, namun tidak semua lokasi mempunyai resources memadai untuk penyelesaian proyek. Ketersediaan pasir, batu pecah, batu pasir, batubata, dan lain – lain terkadang harus mendatangkan dari lokasi lain, dikarenakan spesifikasi proyek menyebutkan hal tersebut dan menjadi mandatory untuk disediakan. Sumberdaya alam untuk material bangunan banyak terdapat di Palu, yang dapat dibawa ke Papua atau Papua Barat. Semen tidak tersedia di remote area, maka harus dibangunkan batching plant sebagai sumber mixing semen – pasir untuk bisa memenuhi spesifikasi bangunan yang dibutuhkan. Proyek di remote area harus bisa mengantisipasi ketersedian material atau equipment.

Tidak sekedar material bangunan, namun juga ketersediaan sumberdaya manusia di proyek. Pelibatan personel lokal sebagai backbone di proyek daerah tersebut, merupakan hal penting, karena juga merupakan bagian dari pengembangan sumberdaya manusia. Diakui sekali bahwa di daerah remote sangat jarang tenaga ahli yang dapat langsung terlibat di proyek, oleh karena itu digunakan strategi pelibatan tenaga kerja lokal di beberapa bidang non skill labour. Keterlibatan di beberapa bidang juga merupakan salah satu cara untuk bisa menyelesaikan beberapa ijin kerja yang harus diselesaikan oleh kontraktor untuk bisa menggelar alat berat dan mendatangkan material bangunan. Keterlibatan tenaga kerja lokal akan memberikan dampak positif bagi perkembangan daerah tersebut untuk bisa melatih dan terlibat langsung beberapa teknologi – teknologi terbaru hasil inovasi daerah lain untuk menyelesaikan proyek.

Melihat penjelasan diatas sangat jelas sekali permasalahan yang muncul di permukaan untuk proyek konstruksi di remote area seperti di Papua dan Papua Barat. Maka cost estimate penyelesaian proyek dengan melihat kepada ketersedian sumberdaya, schedule, risk identification, dan quality adalah hal utama untuk bisa memberikan analisa tajam cost estimate. Hal ini memberikan dampak positif dan kelonggaran kepada kontraktor agar ada margin untuk logistic dan mob – demob ke area project.


[1] Project Manager di oil and gas, mining, dan power plant.

[2] Media Indonesia edisi cetak, 11 – 12 Mei 2015

[3] PMBOK, 4th Edition, ANSI/PMI

[4] Media Indonesia, Selasa 12 Mei 2015.

[5] Muhammad Ade Irfan, Project Engineering Management, IKA ITS, 10 May 2015

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi smadajo92.com