Kurniawan Muhammad, S.Pi, M.IP.

Penulis adalah Direktur Jawa Pos Radar Malang.

Menjelajahi Kota-Kota Unik dan Eksotik di Turki (8)

Naik Balon Udara terbaik Dunia di Cappadocia


Dari Kota Konya, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Cappadocia. Jaraknya sekitar 215 kilo meter. Di Cappadocia, kami terbang dengan balon udara, hingga mencapai ketinggian 1.800-an meter. Anehnya, di ketinggian itu kami tak merasakan derasnya hembusan angin.

*********

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, menikmati perjalanan darat di Turki nyaris tidak terasa capek. Selain jalannya yang mulus dan lempeng, kami kebetulan diberi guide istimewa. Disebut istimewa, karena dia tidak hanya mengantar kami ke tempat-tempat wisata. Tapi, dia selalu memberikan latar belakang tempat, atau sisi-sisi historis setiap destinasi yang kami tuju. Tak hanya itu, dia juga humoris.

Ali Ekinci, dia lah nama si tour guide yang selama enam hari menemani kami. Umurnya sebenarnya masih 30-an tahun. Tapi, wajahnya saja kelihatan lebih tua dari usianya.

Beberapa jam sebelum tiba di Kota Cappadocia, di dalam mobil, Ali menceritakan kepada kami, tentang Cappadocia. Saya dan kawan-kawan satu rombongan sama-sama belum pernah ke Cappadocia.

Dari hasil saya search di google, yang paling terkenal dari Cappadocia adalah balon udaranya. Di dunia, ada lima wisata balon udara yang terkenal. Di Cappadocia, Turki adalah yang nomor satu. Keempat lainnya ada di Melbourne, Australia; Bagan, Myanmar; Serengeti, Tanzania dan Albuquerque, Amerika Serikat.

Saya tanyakan ke Ali. Dan Ali menyarankan agar kami naik balon udara.
Tiba di Cappadocia, hari sudah menjelang malam. Kami langsung menuju ke penginapan. Kami bermalam di Hotel Gold Yildirim.

Saat itu, Ali menanyakan kepada kami, apakah jadi naik balon udara. Saya sempat ragu, antara ikut atau tidak. Sebab, saya sebenarnya agak takut dengan ketinggian. Tapi, hati kecil saya berkata, “Rugi rasanya. Sudah sampai di Cappadocia, tapi tak menikmati balon udara. Bukan kah balon udara di Cappadocia adalah yang terbaik di dunia?,”. Rupanya, hati kecil saya mengalahkan ketakutan saya akan ketinggian. Saya dan beberapa teman saya pun mendaftar.

Untuk bisa menikmati terbang dengan balon udara, waktu itu harus membayar USD 200 per orang (sekitar Rp 2,8 juta dengan kurs USD 1 = Rp 14.000). Relatif mahal. Tapi, untuk sebuah pengalaman yang benar-benar baru dan seru, tidak lah rugi.

Keesokan harinya, untuk terbang dengan balon udara, kami dijemput pukul 05.20 waktu setempat. Dari hotel, kami menuju ke sebuah kawasan pegunungan. Rutenya menanjak, dengan jalanan berkelok-kelok. Karena hari masih gelap, kami tidak bisa melihat pemandangan di luar.
Tiba di lokasi, kami berada di sebuah lapangan yang luas. Di sana balon udara sedang dipersiapkan. Ternyata ada banyak balon yang akan diterbangkan. Mereka milik beberapa operator. Oleh pihak travel yang mengurus kami, dipilih “Kapadokya Balloons”. Pelayanannya sangat professional dan tepat waktu.

Saat terbang dengan balon kian dekat. Balon sedang dipompa. Sebuah keranjang, setinggi dada orang dewasa sedang dipersiapkan oleh kru balon. Keranjang itu lah yang akan dinaiki oleh 20 penumpang, dan akan diterbangkan dengan balon.

Ketika balon sudah mengembang sempurna, ada aba-aba agar kami naik satu per satu ke dalam keranjang. Ada 20 orang dalam satu keranjang itu. Saya dan enam kawan dari Jawa Pos Group, lalu 5 turis dari China, dan 8 lainnya dari Australia.

Di tengah, ada tempat khusus untuk sang pilot. Dia lah yang mengemudikan balon. Jangan dikira, pilotnya berpakaian rapi, necis, berdasi, seperti pilot pesawat terbang. Karena pilot di sini hanya untuk sebutannya saja. Tapi untuk pakaiannya, terkesan berpenampilan ala kadarnya. Berkaos dengan kerah, bertopi, bercelana cargo, pokoknya jauh dari kesan formal.

Setelah semua penumpang naik, si pilot memperkenalkan diri. Namanya Bekir Dursun. Dia asli Cappadocia. Kepada para penumpang dia menjelaskan dengan Bahasa Inggris, bahwa balon akan terbang selama satu jam. Dia juga menjelaskan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh penumpang selama balon terbang. Dan yang perlu mendapat perhatian khusus adalah ketika landing. “Saat landing, akan terjadi sedikit benturan. Anda harus memegangi tali yang ada di dalam keranjang, agar tidak terpental,” kata dia mewanti-wanti.

Lambat laun, balon pun naik. Semakin lama semakin ke atas. Jika pesawat terbang saat take off terasa sekali. Tapi, naik balon, sama sekali tidak terasa.
Secara bersamaan, balon-balon yang lain juga naik. Jumlahnya ratusan balon. Tampak sangat indah, karena balon-balon itu berwarna-warni. Yang membuat sangat terkesan, bukan hanya naik balonnya.

Tapi, pemandangan di bawah, dilihat dari ketinggian, begitu eksotik. Yakni berupa bebatuan lembut di perbukitan yang disebut tuff. Bebatuan itu terbentuk oleh erosi vulkanik. Kejadiannya puluhan juta tahun lalu, ketika letusan gunung api purba menutupi wilayah tersebut dengan abu tebal. Selanjutnya mengeras menjadi batuan lembut yang disebut tuff tadi. Setelah beberapa lama, angin dan air mengikis batuan tuff itu dan mengubahnya menjadi pilar-pilar berbentuk jamur. Jadi, batu-batuan itu jika dilihat dari atas, mirip seperti deretan jamur-jamur. Dari ketinggian, warnanya tampak putih kekuning-kuningan.

Di satu sisi, saya dan penumpang lain sibuk memotret, merekam, keindahan pemandangan yang disaksikan dari atas. Pada sisi lain, Bekir, si pilot tampak sibuk mengatur tekanan udara, dari sistem perapian yang dihasilkan empat tabung gas. Peralatannya cukup lengkap. Ada GPS. Ada juga alat untuk mendeteksi ketinggian. Bekir juga tak pernah berhenti berkomunikasi dengan timnya yang ada di bawah. Di antara yang saya dengar, dia sering kali menanyakan kecepatan angin.

“Kita berada di ketinggian 6.200 feet (sekitar 1.889 meter),” kata Bekir, kepada para penumpang. Dan itu, lanjut dia, adalah capaian tertinggi. Tak bisa lagi lebih tinggi dari itu.
Yang agak membuat saya heran, meski berada di ketinggian hingga 6.200 kaki, tapi saya tidak merasakan kencangnya hembusan angin. Saya bandingkan ketika berada di puncak Monas di Jakarta yang tingginya sekitar 132 meter, anginnya cukup kencang terasa.

Saya pun menanyakan hal itu ke Bekir. “Musuh kami adalah angin kencang. Karena itu, sehari, kami hanya terbang sekali. Yakni pada saat pagi hari. Tidak boleh lebih dari satu jam setelah matahari terbit,” ujarnya. “Karena pada saat itu, angin mulai berhembus kencang, dan cuaca panas karena sinar matahari,” kata Bekir menjelaskan. Makanya, meski berada di ketinggian hingga hampir 2.000 meter, nyaris tidak terasa hembusan anginnya.

Bekir tampak sudah begitu terlatih mengemudikan balon. Dia bisa membawa balon terbang rendah, mendekati kawasan bebatuan yang indah tadi. Dari satu perbukitan ke perbukitan lainnya. Setelah itu kembali naik.

Untuk bisa menjadi pilot balon udara, Bekir harus ikut pelatihan khusus selama enam bulan. Dan sebagai pilot balon udara, dia dibayar cukup mahal. Yakni sekitar 6.500 Euro sebulan (sekitar Rp 102.493.949). Digaji dalam Euro, karena mengikuti standar eropa.

“Saya bekerja enam hari seminggu, satu kali libur. Dalam sehari, kami hanya terbang sekali,” ujarnya.
Satu jam berlalu, tiba lah saatnya balon udara landing. Saat-saat menjelang mendarat itu, adalah saat yang butuh kehati-hatian ekstra. Semakin turun mendekati daratan, wajah Bekir tampak tegang. Berkali-kali dia berteriak ke bawah, memberi aba-aba timnya yang ada di bawah. Semakin ke bawah, keranjang semakin mendekati daratan. Dan ….bruk…bruk…bruk ….beberapa kali bagian bawah keranjang membentur cukup keras permukaan tanah.

Kami pun berpegangan pada tali yang ada di keranjang seperti instruksi Bekir. Agar tidak terpental. Saat itu lah, dengan sigap beberapa anggota tim Bekir berusaha menangkap keranjang kami. Dan kami pun berhasil mendarat dengan sempurna.

Hari itu, dari data yang saya lihat, sedikitnya 2.500 orang (hampir semuanya turis asing) terbang dengan balon udara di Cappadocia. Dengan jumlah itu, dalam sehari, sedikitnya menghasilkan USD 500 ribu (sekitar Rp 6,7 miliar).
Wisata balon udara di Cappadocia memang termasuk ikon andalan pariwisata Turki.

(dilengkapi dari berbagai sumber/bersambung/kritik-saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)


*) Tulisan dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi smadajo92.com

Artikel terkait :