Kurniawan Muhammad, S.Pi, M.IP.

Penulis adalah Direktur Jawa Pos Radar Malang.

Menjelajahi Kota-Kota Unik dan Eksotik di Turki (7)

Hikayat Rumi di Rezim Sekuler dan Erdogan


Turki punya penyair yang namanya menjadi legenda: Jalaluddin Rumi. Syair-syairnya mendunia, dan sudah diterjemahkan ke sejumlah bahasa. Dalam perjalanan dari Pamukkale ke Cappadocia, kami mampir ke Konya. Di kota ini lah Rumi berkiprah dan dimakamkan. Ini lah sisi-sisi menarik Kota Konya, kotanya Rumi.

*********

Di Kota Pamukkale, kami hanya semalam saja. Objek wisata yang kami datangi, hanya satu. Yakni, di Hierapolis. Sebenarnya, di Hotel Tripolis tempat kami menginap, disediakan fasilitas berendam di air panas alami. Lokasinya hanya puluhan meter dari hotel. Tapi, karena kalah oleh rasa capek, fasilitas itu tak termanfaatkan. Apalagi, kami sebelumnya sudah merasakan sensasi berendam air panas alami di Hierapolis.

Keesokan harinya, kami pun berangkat menuju ke destinasi berikutnya: Cappadocia. Dalam perjalanan ini, kami dijadwalkan mampir ke Kota Konya. Dua nama kota itu sama-sama asing di telinga saya. Tapi, ketika Ali Ekinci, sang tour guide menyebut nama Jalaluddin Rumi, nama ini sering saya dengar. Rumi adalah tokoh sufi sekaligus penyair yang sangat terkenal dari Turki. Dan Konya adalah tempat Rumi dimakamkan.

Dari Kota Pamukkale, untuk menuju ke Cappadocia, kami menempuh perjalanan darat sejauh sekitar 650 kilo meter. Karena jalan yang kami lalui kebanyakan lempeng dan mulus, maka butuh waktu sekitar 8 – 9 jam. Itu pun sudah diselingi dengan singgah di Kota Konya. Kota ini termasuk salah satu kota terluas di Turki (sekitar 39.000 km persegi). Jumlah penduduknya sekitar satu jiwa jiwa. Konya adalah kota industri. Di sini, terdapat hampir 30 ribu perusahaan kelas menengah ke atas dan menengah ke bawah.

Dalam sepuluh tahun terakhir, pembangunan infrastruktur di Konya gencar dilaksanakan. Mulai dari pembangunan jalan bawah tanah, transportasi kereta ringan, kereta cepat yang menyambungkan Konya – Istanbul – Ankara, dan pembangunan stadion yang berkapasitas 40 ribu orang.
Konya juga termasuk kota tertua di Turki. Dalam sejarah Romawi, Konya telah dikenal sebagai kota internasional pada abad ke-2 Masehi. Bangsa Romawi lah yang mendirikan kota itu. Mereka menyebutnya dengan Iconium.

Sayangnya, kami tak sempat bermalam di Konya. Geliat perkembangan Konya hanya kami saksikan saat berjalan-jalan mengelilingi beberapa sudut kota itu. Di Konya kami singgah selama dua jam di kompleks Mevlana Museum. Selain museum, tempat ini dulunya adalah padepokannya Rumi, tempat dia mendidik murid-muridnya. Di tempat itu juga Rumi dimakamkan bersama sanak-keluarganya.
Kata “mevlana” merupakan sebutan singkat untuk Rumi yang dalam Bahasa Turki artinya sama dengan: Mawlana Jalal ad-Din Muhammad Balkhi-Rumi.

Cukup banyak peziarah yang datang ke makam Rumi. Yang menarik, kebanyakan yang datang itu sibuk berfoto selfie. Jarang sekali yang terlihat khusyuk berdoa. Jadi, hilir mudik para peziarah yang ingin mendekat ke makam Rumi, rata-rata ingin mengambil objek makam Rumi untuk dijadikan background berfoto selfie.

Jalaluddin Rumi adalah sosok fenomenal dari Turki. Dia hidup pada abad ke- 13 (1207 – 1273 M). Di Kota Konya ini lah, Rumi yang merupakan tokoh tasawuf dan sastrawan itu menghabiskan sebagian besar usianya hingga wafat.

Karya-karya Rumi yang kebanyakan berupa sajak dan puisi itu sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa: mulai Bahasa Inggris, Persia, Arab, bahkan Yunani. Kumpulan buku-buku karya Rumi banyak menginspirasi para pujangga di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Peninggalan Rumi yang sampai saat ini masih fenomenal dan khas adalah tarian Samaa atau Whirling Dervishes. Tarian ini sudah mendunia. Gerakannya khas. Yakni si penari (umumnya laki-laki) menggunakan jubah, lebih menyerupai rok, dan mengenakan semacam songkok khas Turki. Si penari bergerak berputar-putar, berlawanan dengan arah jarum jam, sambil melafalkan kalimat toyyibah, dan kalimat tauhid. Saat bergerak berputar itu, jubah yang menyerupai rok tadi mengembang. Tarian ini dianggap simbolisasi ajaran sufisme Rumi, dan juga ritual khas untuk tarekat Mevlevi (sebutan bagi pengikut mevlana) yang menggambarkan perpaduan kosmis secara artistik, juga dramatik.

Di kompleks pemakaman Rumi, selain terdapat masjid, juga terdapat bangunan yang di dalamnya disekat-sekat seperti ruangan. “Kalau di Indonesia ini adalah pondok pesantren. Di tempat ini, dulu ada sekolah agama. Murid-muridnya menginap di sini. Semacam pesantren,” cerita Ekinci.

Tapi, ketika Turki dipimpin oleh Mustafa Kemal At Taturk, peralihan dari kesultanan Islam (Dinasti Usmaniyah) menjadi republik sekuler, “pesantren” di komplek Rumi itu ditutup. Tak hanya itu, masjid yang ada di kompleks pemakaman Rumi juga tidak boleh digunakan sebagai tempat ibadah. Selanjutnya, lebih difungsikan sebagai museum. Tepatnya sejak 1926. Sebagai museum, berbagai benda dan juga karya dari Rumi disimpan di sana. Ada alat-alat musik kuno, tulisan tangan Rumi di kertas, hingga Alquran yang ditulis dengan tinta emas, tersimpan di museum tersebut.

Puluhan tahun kemudian, perubahan terjadi ketika Turki dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan. Erdogan membolehkan masjid yang ada di kompleks pemakaman Rumi untuk dijadikan tempat ibadah. Dan dibuka untuk umum.

(bersambung/dilengkapi dari berbagai sumber/kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)


*) Tulisan dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi smadajo92.com

Artikel terkait :