Kurniawan Muhammad, S.Pi, M.IP.

Penulis adalah Direktur Jawa Pos Radar Malang.

Menjelajahi Kota-Kota Unik dan Eksotik di Turki (6)

Berbecek Nikmat di Sumber Mata Air Panas Pamukkale


Di Turki ada sumber mata air panas yang keberadaannya berumur ribuan tahun. Sampai sekarang masih ada, dan menjadi destinasi wisata favorit di Pamukkale.

*********

Dari Kota Bursa, perjalanan berlanjut ke Kota Pamukkale. Jarak yang harus kami tempuh sekitar 550 kilo meter. Selama enam jam, kami menempuh jalur darat. Kami tiba di Pamukkale siang menjelang sore. Sekitar pukul 15.00 waktu setempat.

Dari kejauhan, kami menyaksikan sebuah pemandangan menyerupai deretan pegunungan berwarna keputih-putihan. Semakin mendekat, semakin tidak seperti pegunungan. Melainkan bentuknya lebih seperti benteng. Kami menuju ke tempat itu. Rupanya, tempat itu lah yang menjadi asal muasal, mengapa disebut Pamukkale. Dalam Bahasa Turki Pamuk berarti kapas, dan Kale berarti benteng. Jadi, Pamukkale berarti Benteng Kapas. Disebut Pamukkale karena di tempat itu terdapat sebuah deretan pegunungan yang menyerupai benteng, dan dari kejauhan tampak berwarna keputih-putihan seperti kapas.

Di Pamukkale ada dua lokasi wisata utama. Pertama, Hierapolis dan kedua, Travertines. Kami memilih Hierapolis. Ini adalah kota tua yang berdiri di masa Bizantium (Kekaisaran Romawi Timur). Banyak versi menyebut, bahwa peradaban di kota itu berkembang sekitar abad ke 3- 4 SM (Sebelum Masehi).

Dari tempat pemberhentian kendaraan, kami berjalan kaki menyusuri luasnya Pamukkale. Saya tidak tahu, berapa kilo meter saya berjalan. Saya juga tidak mencatat, berapa lama saya berjalan. Mungkin karena saking asyiknya mata ini terpana dengan pemandangan indah di Pamukkale. Dari kejauhan, saya menyaksikan, bekas-bekas reruntuhan dan puing-puing bangunan menyebar di hamparan yang luas itu. Puing-puing bekas reruntuhan yang saya saksikan dari kejauhan itu, menurut cerita Ali Ekinci, tour guide yang mendampingi kami, adalah bekasnya kuil, katedral, tembok-tembok, pilar-pilar, dan amphiteather.

Hierapolis memang tempat yang sangat sarat dengan sejarah. Ada banyak versi sejarah terkait dengan keberadaan Hierapolis. Ada versi yang mengatakan, tempat itu disebut Hierapolis karena di sana pernah ada kuil hiera. Yakni dibikin khusus untuk memuja Hiera, salah satu nama dewa di mitologi Yunani. Tapi, ada versi lain yang menyebutkan bahwa nama Hierapolis diambil untuk menghormati Hiera, isteri dari Telephos yang mendirikan Dinasti Attalid.

Attalid kemudian menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi. Pada abad ke-1 M, Hierapolis hancur lebur diterjang gempa. Lalu dibangun lagi, dengan sepenuhnya mengadopsi gaya Romawi.
Dalam perkembangannya, Hierapolis pernah menjadi sebuah kawasan yang maju. Romawi pernah memberikan beberapa hak istimewa kepada Hierapolis. Salah satunya hak otonomi, yakni untuk mengatur pemerintahannya sendiri. Kawasan ini pernah menjadi tempat tinggal bagi orang-orang Yahudi dan Kristen. Diperkirakan jumlahnya pada saat itu hingga mencapai lebih dari 100 ribu jiwa. Di masa perang Salib, Hierapolis menjadi salah satu daerah yang diperebutkan.

Pada awal abad ke-16, Hierapolis kembali dilanda gempa. Tapi saat itu sudah tidak ada penghuninya. Lama tak disentuh, hingga akhirnya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dilakukan penggalian kembali. Dan hasilnya, bisa disaksikan sampai sekarang. Meski yang tersisa hanyalah puing-puing, pilar-pilar bekas bangunan, tapi tempat ini telah menjadi salah satu objek wisata yang sangat terkenal di Turki. Tahun 1988 Hierapolis bahkan telah dinyatakan sebagai situs warisan dunia UNESCO.

Daya tarik Hierapolis semakin kuat dengan adanya sumber mata air panas yang ada di sana. Suhunya antara 24 – 34 derajat celcius. Air di tempat itu mengandung kalsium karbonat. Keberadaan sumber mata air panas itu sudah ada sejak zaman bizantium. Sumber mata air itu mengalir, ditampung di beberapa kolam yang kedalamannya bervariasi. Paling dangkal setinggi separuh betis kaki orang dewasa, dan paling dalam setinggi perut orang dewasa. Saya sempatkan untuk berbecek-becek ria di kolam itu. Merasakan panasnya air dari sumbernya yang alami. Dari kolam-kolam itu, pemandangan di bawahnya sangat indah. Kolam-kolam itu memang berada di perbukitan.

Konon, mata air panas di Hierapolis dipercaya bisa menyembuhkan beberapa penyakit.
Ketika saya berada di sana, para turis berbondong-bondong menikmati air panas itu. Banyak yang menceburkan diri, hingga berendam. Tapi tak sedikit yang hanya berbecek-becek saja seperti yang saya lakukan.

(dilengkapi dari berbagai sumber/bersambung/kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)


*) Tulisan dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi smadajo92.com

Artikel terkait :