Kurniawan Muhammad, S.Pi, M.IP.

Penulis adalah Direktur Jawa Pos Radar Malang.

Menjelajahi Kota-Kota Unik dan Eksotik di Turki (5)

Ada Jejak Nabi Khidir AS di Ulu Cami, Bursa


Selain ke Masjid Hijau, keesokan harinya kami juga mengunjungi satu lagi masjid bersejarah, yakni Ulu Cami. Dalam Bahasa Turki, artinya Masjid Agung. Ulu Cami terletak di Ataturk Boulevard, di kawasan kota tua Bursa.

Dibandingkan dengan Masjid Biru dan Masjid Hijau, Ulu Cami lebih tua lagi usianya. Yakni dibangun pada tahun 1396 – 1399 M, yakni ketika Usmaniyah dipimpin Sultan Yildirim Bayezid I.
Ada empat hal yang membuat Ulu Cami menarik dan sangat layak untuk dikunjungi. Pertama, masjid ini unik, karena punya 20 kubah. Dan dibalik bangunan 20 kubah itu ternyata ada kisah yang menyertainya. Yakni, pada saat itu Sultan Bayezid I memimpin perang Nicopolis, melawan pasukan salib. Saat itu dia berjanji, jika memenangi perang tersebut, akan membangun 20 masjid.

Walhasil, perang benar-benar dimenangkan Bayezid I. Berarti dia harus mewujudkan nazarnya. Ketika akan memulai membangun 20 masjid, ternyata kondisi keuangan negara tidak mencukupi. Sebab, untuk membangun 20 masjid, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika dipaksakan, akan berdampak buruk bagi keuangan negara. Bayezid I pun meminta fatwa kepada para ulama pada saat itu. Dan akhirnya diputuskan lah oleh para ulama untuk membangun satu masjid, tapi harus terdiri dari 20 kubah. Ini untuk “memenuhi” nazarnya Sultan, sekaligus melambangkan 20 sifat wajibnya Allah SWT.

Untuk membangun Ulu Cami, Bayezid I sepenuhnya mempercayakan kepada para ulama untuk menentukan lokasinya. “Ceritanya, setelah istikharoh, ada seorang ulama bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang menunjukkan lokasi dimana harus dibangun masjid. Maka tempat dimana ditunjukkan oleh Rasulullah dalam mimpi seorang ulama itu akhirnya dijadikan mihrabnya masjid,” cerita Ali Ekinci, guide yang menemani kami.

Keistimewaan kedua dari Ulu Cami adalah adanya tempat wudhu yang berada di dalam masjid. Ini termasuk tidak lazim. Karena umumnya tempat wudhu berada di luar masjid. Ternyata ada kisahnya tersendiri di balik itu. Al kisah, ketika Ulu Cami akan dibangun, Sultan Bayezid I lebih dulu membebaskan lahan untuk lokasi berdirinya masjid. Setelah satu per satu lahan dibebaskan, ternyata ada satu petak lahan milik seorang nenek yang bersikeras tak mau menjual tanahnya, meski untuk masjid.

Sultan Bayezid I saat itu dengan sabar menunggu. Dia tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk memaksa nenek tersebut. Hingga akhirnya, suatu hari, si nenek itu bermimpi. Dalam mimpinya dia merasa seperti berada di neraka jahanam. Setelah mendapati mimpi buruk tersebut, si nenek akhirnya tersadar, dan dia bersedia menjual sepetak tanah miliknya untuk dijadikan masjid. Untuk menandai sepetak lahan milik si nenek ini, di tempat itu dijadikan tempat berwudhu. Sampai sekarang.

Keistimewaan ketiga dari Ulu Cami adalah keberadaan satu tempat di dekat mimbar. Di tempat itu, di bagian tembok diberi tanda huruf hijaiyah “wawu” dalam ukuran besar dan mencolok. Saya pun sempat bertanya-tanya, apa maksud dari tanda itu. “Ini juga ada sisi historisnya. Di tempat itu (persis di depan tembok bertuliskan huruf hijaiyah “wawu”) ulamak yang alim di sini sering melihat Nabi Khidir salat. Jadi, tempat di dekat huruf wawu itu sering digunakan salat oleh Nabi Khidir,” jelas Ali. Dan hingga kini, lanjut Ali, tempat yang ditandai dengan huruf wawu di dekat mimbar itu menjadi tempat favoritnya para jamaah untuk beritikaf.

Keistimewaan keempat dari Ulu Cami adalah, masjid tersebut menjadi salah satu dari lima masjid terpenting dan tertua di dunia. Kelima masjid itu adalah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Al Aqsha, Masjid Agung Umayyah di Syam (Syiria) dan Ulu Cami.

Ulu Cami dibangun mulai 1396, dan baru selesai tiga tahun kemudian. Di dalam masjid yang luasnya sekitar 2200 meter persegi itu, dipenuhi dengan tulisan tangan kaligrafi, karya para ahli kaligrafi pada masa itu. Di Ulu Cami ini di dalamnya juga disimpan satu kiswah Kakbah yang dibuat dan dipasang di rumah Allah itu pada abad ke-16. Kini, Ulu Cami menjadi salah satu objek favorit para turis. Bangunan bersejarah itu telah diakui dan ditetapkan UNESCO pada 2014 sebagai salah satu masjid terpenting dalam sejarah Islam.

(bersambung/dilengkapi dari berbagai sumber/kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com)


*) Tulisan dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi smadajo92.com

Artikel terkait :