Kurniawan Muhammad, S.Pi, M.IP.

Penulis adalah Direktur Jawa Pos Radar Malang.

Menjelajahi Kota-Kota Unik dan Eksotik di Turki (4)

Di Bursa, Ada Masjid 600 Tahun Dibangun
dari Keramik Buatan Tangan


Jika ke Turki, Anda harus mampir ke Kota Bursa. Di sana ada dua masjid yang selain sangat bersejarah, juga punya kekhasan tersendiri.

*********

Dari Istanbul, kami melanjutkan perjalanan ke Bursa. Butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk menempuh perjalanan darat dengan jarak sekitar 160 kilo meter. Menikmati perjalanan antar kota di Turki tidak seperti di Indonesia. Di sana, jalan-jalan yang menghubungkan antar kota, cukup lebar dengan aspal hotmix. Mulus. Dan relatif lancar. Sehingga, menempuh jarak 160 kilo meter, tidak terasa.

Kota Bursa adalah salah satu kota terpenting di Turki. Ini adalah kota terbesar ke-4 setelah Istanbul, Ankara dan Izmir. Mengapa Bursa adalah kota yang penting untuk dikunjungi? Salah satu alasannya, karena di kota inilah kekuasaan Dinasti Usmaniyah berawal. Menurut catatan sejarah, pusat kekuasaan Usmaniyah berganti selama tiga kali. Pertama di Bursa, kedua di Kota Edirne dan ketiga di Kota Istanbul.

Seperti diceritakan pada tulisan sebelumnya, pusat Kesultanan Usmaniyah baru pindah ke Istanbul setelah Sultan Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel pada 1453 M. Bursa juga dikenal sebagai kota industri, dan menjadi pusatnya industri otomotif bagi berbagai merek mobil Eropa. Dan saya baru tahu, bahwa Bursa adalah tempat asalnya kebab Turki. Kebab yang kita makan dan bisa dibeli di Indonesia, asalnya ya dari Bursa itu.

Di Bursa kami menginap semalam. Waktu sehari cukup untuk mengunjungi beberapa spot menarik di Bursa. Sebab, selain tidak banyak destinasi menarik, Kota Bursa juga tak sebesar Istanbul. Di kota ini jumlah penduduknya sekitar 2,5 juta jiwa. Karena itu, kota ini pun tak seramai dan sepadat Istanbul.

Di Bursa, tempat pertama yang kami kunjungi adalah “Yesil Cami”. Dalam Bahasa Turki, Yesil artinya Hijau. Dan Cami (dibaca Jami’) secara harfiah bermakna Masjid Jami’. Di Turki, Cami maknanya adalah Masjid. Sedangkan “Mescid” dalam Bahasa Turki artinya masjid kecil, atau mushola. Jadi, Yesil Cami adalah Masjid Hijau. Para turis menyebutnya Green Mosque.

Apa istimewanya Masjid Hijau? Setidaknya ada tiga keistimewaan dari Masjid Hijau ini. Pertama, usianya yang tergolong tua. Lebih tua daripada Masjid Biru di Istanbul. Jika Masjid Biru selesai dibangun pada 1616, Masjid Hijau di Bursa kelar dibangun pada 1421. Jadi, umur Masjid Hijau ini hampir 600-an tahun !!!.

Masjid Hijau dibangun Ketika Pusat Kekuasaan Usmaniyah masih di Bursa, yakni saat pemerintahan Sultan Celebi Mehmed I (1413 – 1421). Dia adalah kakeknya Sultan Muhammad Al Fatih (Mehmed II). Masjid Hijau dibangun mulai 1419. Butuh waktu selama tiga tahun menyelesaikan bangunan masjid ini. Sayangnya, Sultan Mehmed I tak sampai bisa menyaksikan Masjid Hijau ini selesai dibangun. Dia wafat ketika Masjid Hijau masih belum jadi.

Keistimewaan kedua dari Masjid Hijau ini, adalah ornament interiornya yang didominasi warna hijau, dari ribuan keping keramik. Istimewanya, seluruh keramik itu buatan tangan, bikinan para seniman ternama pada masa itu. Inilah yang membuat masjid itu diberi nama Green Mosque. Anda bisa bayangkan, betapa detailnya dan betapa halusnya keramik yang dibikin secara hand made itu. Selain ada keramik buatan tangan, juga ada keramik lukis.

Keramik-keramik buatan tangan di Masjid Hijau itu terdapat di antaranya di bagian mihrab. Selain itu juga terdapat di area khusus muadzin, dan areal khusus untuk Sultan. “Umumnya masjid-masjid di Turki yang dibangun di masa Kesultanan Usmaniyah, selalu ada tempat khusus untuk Sultan. Sultan disediakan tempat khusus tidak berbaur dengan jamaah lain, dengan pertimbangan keamanan,” cerita Ali Ekinci, guide yang menemani kami selama berada di Turki.

Keistimewaan ketiga dari Masjid Hijau ini adalah bentuk denah bangunannya yang berbentuk huruf T terbalik. Dengan bentuk seperti huruf T terbalik, maka ruang shalat di dalam masjid itu dibagi menjadi tiga bagian. Yakni ruang utama di sekitar mihrab dan mimbar, kemudian ruangan di sayap kiri dan ruangan di sayap kanan. Sedangkan di bagian tengah, terdapat satu pancuran yang berfungsi sebagai tempat berwudhu. Tampak indah dan megah tempat berwudhu itu karena terbuat dari bahan batu pualam.

Setelah shalat ashar di Masjid Hijau, kami beranjak mengunjungi kompleks pemakaman (Maosoleum). Di tempat itu, Sultan Celebi Mehmed I dan keluarganya dimakamkan. Lokasi maosoleum berada di seberang jalan dari Masjid Hijau. Seperti masjidnya, warna dominan di maosoleum juga hijau. Makanya, tempat itu juga diberi nama Green Maosoleum. Bangunan ini berdenah octagonal. Dan di bagian dalamnya juga dihias dengan satu mihrab berukuran kecil. Saya rasa lebih berfungsi sebagai penunjuk arah kiblat dan penghias ruangan.

Meski lokasi pemakaman, tapi di dalam mausoleum penuh dengan hiasan kaligrafi yang sangat indah. Makam Sultan Celebi Mehmed I ada di tengah. Sedangkan di sekitarnya ada makam putranya Mustafa, Mahmud dan Yusuf serta makam putrinya yang bernama Selçuk Hatun, Sitti Hatun dan Ayse Hatun. Juga ada makam pengasuh Sultan Çelebi Mehmed I yang bernama Daya Hatun.Masjid Hijau adalah salah satu destinasi favorit wisatawan di Bursa.

(bersambung/dilengkapi dari berbagai sumber/kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com)


*) Tulisan dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi smadajo92.com

Artikel terkait :